Header Ads

Iklan

Pokok ilmu adalah kepastian, dan buahnya adalah keselamatan.

بسم الله الرحمن الرحيم

قال الشافعي - رحِمَهُ اللّٰه -:

أَصْلُ العِلْمِ: التَّثْبِيتُ. وَثَمَرَتُهُ: السَّلاَمَةُ.

وَأَصْلُ الوَرَعِ: القَنَاعَةُ. وَثَمَرَتُهُ: الرَّاحَةُ.

وَأَصْلُ الصَّبْرِ: الحَزْمُ. وَثَمَرَتُهُ: الظَّفَرُ.

وَأَصْلُ العَمَلِ: التَّوْفِيْقُ. وَثَمَرَتُهُ: النَّجَاحُ.

وَغَايَةُ كُلِّ أَمْرٍ: الصِّدْقُ .

Imam As-Syafi'i رحمه الله تعالى berkata, 

Pokok ilmu adalah kepastian, dan buahnya adalah keselamatan. 

Dan pokok sifat wara' (kehati-hatian) adalah qana'ah (ridha dengan yang sedikit), dan buahnya adalah kenyamanan.

Pokok kesabaran adalah keteguhan, dan buahnya adalah kemenangan.

Dan pokok amalan adalah taufiq (hidayah), dan buahnya adalah kesuksesan.

Puncak segala perkara adalah kejujuran."

[Siyar A'lam An-Nubala, 10/41]


Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

أَصْلُ العِلْمِ: التَّثْبِيتُ، وَثَمَرَتُهُ: السَّلاَمَةُ وَأَصْلُ الوَرَعِ: القَنَاعَةُ، وَثَمَرَتُهُ: الرَّاحَةُ، وَأَصْلُ الصَّبْرِ: الحَزْمُ، وَثَمَرَتُهُ: الظَّفَرُ وَأَصْلُ العَمَلِ: التَّوْفِيْقُ. وَثَمَرَتُهُ: النُّجْحُ، وَغَايَةُ كُلِّ أَمْرٍ: الصِّدْق (سير أعلام النبلاء 8/251)

Pangkal dari ilmu, adalah menelusuri kebenarannya dan buahnya keselamatan. Pangkal dari wara adalah qona’ah dan buahnya ketenangan. Pangkal dari sabar adalah kemantapan hati dan buahnya kemenangan. Pangkal amal adalah taufiq dan buahnya kesuksesan. Dan puncak dari segala perkara adalah kejujuran.

[Imam Syafi’i rahimahullah]

Imam Al-Muzany rahimahullah bercerita:

“Aku menemui Imam asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Syeikh?”

Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allaahﷻ dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata, “Nasihatilah aku.”

Imam asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allaahﷻ, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allaahﷻ. Takutlah terhadap Allaahﷻ ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allaahﷻ di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allaahﷻ kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari) orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allaahﷻ dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, al-Quran sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allaahﷻ sebagai Penyejukmu. Barang siapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian, Imam asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan

Kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa

Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku

kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku

Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu

Kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besarTerus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus

Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam

Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

Seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa, walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar

[Tarikh Ibnu Asakir, Juz 51, hlm. 430-431]

"Agama Adalah Nasihat"

والله أعلمُ بالـصـواب

#Tauhid Manhaj & Aqidah

Sumber : Whatsapp

Tidak ada komentar